Toleransi

Benar... Toleransi, itulah kata-kata yang sering diajarkan pada kita sejak masih duduk di bangku SD. Bersama rekan-rekannya, seperti gotong-royong, berbakti kepada orang tua, tolong-menolong dalam kebaikan dan kesabaran (caelah), ataupun gemar menabung, kata ini selalu mencekoki pemikiran kita, yang sayangnya tampak kurang efektif.

Bukan, saya bukan hendak berbicara tentang kacaunya negara Indonesia akibat kekurangtoleransian rakyatnya, tapi saya akan berbicara hal lain, keluarga saya.

Sebagai keluarga yang berkepala keluarga anak pertama dan beribu rumah tangga anak pertama juga, tidaklah heran bahwa kakak tertua saya adalah anak pertama kami, yaitu saya dan saudara-saudara kandung saya, adalah cucu-cucu tertua di keluarga besar, terutama di keluarga dari ayah saya (di keluarga ibu, ada 2 orang sepupu yang lebih tua dari saya). Sebagai cucu-cucu tertua, kami harus memberi contoh yang baik kepada sepupu-sepupu kami dengan budi pekerti yang luhur. Salah satunya adalah sikap toleransi.

Rupa-rupanya, sikap tersebut ternyata sudah tumbuh dari rumah, dalam hal makan-dimakan. Setiap makanan tersaji, entah atas perintah siapa, seenak apapun makanannya, seingin apapun kami memakannya, maka biasanya pasti ada saja 1 atau 2 buah tersisa di piring. Sebagai contoh, ayam bakar, kita semua pasti suka ayam bakar, apalagi kalo pedes-pedes gitu, dinikmati dengan segelas jus jeruk, di bawah sinar matahari yang tidak terlalu menyengat, nyummy nyummy banget pasti. Oke, kembali ke ayam bakar itu, mau sebanyak apapun ayam bakar yang disajikan, pasti ada sisa 1 atau 2 potong yang tidak termakan (yang pada akhirnya akan dimakan juga, tapi beberapa hari setelah dibuat). Saya merasa, ini sikap toleransi yang luar biasa, mungkin dalam benak kami-kami ini "kasihan yang lain mungkin ingin, jadi gak saya makan deh", meski sebenernya adalah "ntar kalo ngabisin disuruh nyuci piringnya, males ah".

Bukan hanya dalam masalah makanan yang diambil, tapi juga makanan yang dimakan, entah kenapa tiap kali makan, pasti rata-rata menyisakan makanan yang enak di akhir, pemikiran bagusnya, "siapa tahu ada yang kepengen, kan saya bisa berbagi", tapi ya, you know lah yang benernya gimana.

Lebih jauh, orang yang rajin bersikap toleransi adalah orang yang toleran. Toleran ini sifat anak yang manis, anak manis jangan dicium, karena kalau dicium, pipinya akan memerah. Sekian.

Bincang kencing

Gw : jaman sekarang dunia sudah tidak aman di, banyak angkot.
Adi : gimana kalo kita basmi aja?
Gw : jangan di, soalnya bagian dari ekosistem

Dan lalu kencing ..

20120511-140747.jpg


New Sport Tried: Bouldering

Sebelumnya, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena 2 postingan terakhir di sini hawanya negatif. Harap dimaklumi, sudah hampir 8 bulan lamanya saya tidak mendapat asupan sate padang, pempek, dan lain sebagainya XD. Kangeeen..

Anyway, akhir minggu lalu saya memutuskan untuk melupakan sejenak segala urusan yang menentukan masa depan *tsahh*, dan mencoba olahraga menarik… bouldering namanya. Sebenarnya ada juga tawaran lain yang menarik, biking trip, 30 km saja katanya *sajaaa?? >.<*, round trip. Tapi saya baru saja bisa naik sepeda tahun lalu *iya, sekarang sudah bisa ^^v*, untuk belok pun kadang masih oleng, belum berani ah turun ke jalan.

Bouldering is a style of rock climbing undertaken without a rope and normally limited to very short climbs over a crash pad (called a bouldering mat) so that a fall will not result in serious injury. It is typically practiced on large natural boulders or artificial boulders in gyms and outdoor urban areas.
– wikipedia

Deskripsi dari sang pengajak, “Ga terlalu tinggi kok, paling 2~3 meter, dan di bawahnya ada matras jadi bisa langsung menjatuhkan diri tanpa sakit”. Tepat seperti gambar di atas ^^. Karena sebelumnya, yang ada di bayangan saya tentang wall climbing adalah: tinggi banget, pake tali pengaman, terus ada orang berjaga-jaga di bawah megangin talinya. Well, bener sih, cuma bouldering ini salah satu variasinya aja, yang cocok banget untuk pemula, seperti saya.

Arena bouldering ini tak terlalu jauh dari pusat kota, hanya satu kali naik bus. Salewa Cube namanya, satu gedung penuh dengan arena climbing dan bouldering. Admission fee: €5 *for 2 hours*, shoe rent: €3, karena sepatunya harus khusus yang super ketat sampai jempol kaki saya tersiksa.

Di bouldering room ini total ada 113 jalur yang bisa dicoba, dengan level kesulitan A sampai E, A yang paling mudah. Batu berwarna-warni itu bukan hanya supaya menarik, tapi menunjukkan jalur yang harus dilalui. Aturannya sih, selama memanjat harus menggunakan warna batu yang sama, ga boleh sembarangan. Nanti di paling atas ada batu puncak, goal nya adalah, batu teratas itu harus berhasil dipegang oleh 2 tangan, baru setelah itu turun dengan menjatuhkan diri ke matras.

And I really love this sport! ^^ Kenapa? Karena saya bisa, mwahahahaha.. Tapi daripada saya pajang foto saya yang bergaya bak monyet, mending saya pajang foto bule aja untuk menyenangkan pembaca, bukan begitu? ;) Saya berhasil menaklukkan 3 jalur A dan 1 jalur A+. Walaupun setelah sampai atas, masih takut-takut untuk langsung menjatuhkan diri ke matras. Kalau nengok ke bawah kesannya tinggi banget bok, serem.

Setelah itu, seperti biasa, otot-otot lengan dan paha langsung melancarkan aksi protes beberapa hari setelahnya. Memang yang namanya olahraga itu harus rutin.

Okay then, back to business.. soalnya malam harinya email saya dibalas oleh sang supervisor! Setelah hampir 2 minggu saya dicuekin. Sebenarnya saya berniat balas dendam nyuekin emailnya beberapa hari, tapi kalau nanti digantungin lagi saya sendiri yang kelimpungan ^^;

Ciao!

Nulis Blog

Letting go of the past


Bolzano Hiking Trip

Have I told you before, that Bolzano is surrounded by mountains? So it is like heaven for people who like to go hiking because there are a lot of walking and hiking path with beautiful view of the mountains. So here you go, my experiences of hiking at Bolzano, plus the captured view.

#1 Latemar, Labyrinth Path

My first hiking trip, ever! And I love it! At the end of October, we went from Karersee (Lago di Carezza), passed through Latemar, the Labyrinth path, then ended up at Karrerpass. 7.9 km in total, with the maximum height of 1,901 m.

The frozen Lago di Carezza. Beautiful isn’t it? ;) I will definitely go there again on summer. We went there by bus, took less than one hour from the city center.

Latemar, one of the mountain in the Dolomites. That’s where we’re going!

We didn’t go to the top of the mountain, but still, the view from there is breathtaking. I guess.. that’s Rosengarten *I’m not sure ;p*. We took a break for a while, having lunch with marvelous view.

After that, we passed through Labyrinth path, which is basically a narrow and complicated path going down the mountain. Took no picture there since I need all of my focus and concentration to survive that ;p.

And finally, we arrived at Karerpass!

#2 Funivia San Genesio

At the beginning of March, surprisingly the weather was very nice, it felt like spring already ^^. So we decided to try one of the cable car, called funivia in Italian. There are 3 cableway in Bolzano: Ritten-Renon, Kohlern-Colle, and San Genesio. We tried the last one.

One of the activity in the mountain: throwing rock competition ^^.

The view? Of course one of the mountain in Dolomites *don’t ask me which one ;p* and view of the village from the hill. Then we went around in the village for a while before going back home.

#3 Earth Pyramids in Ritten-Renon

The next day, right after the #2 trip, we went to try the other cable car, Ritten-Renon. Unfortunately, the cable car is closed :’(. Two of us insisted on going up… on foot. After 15 minutes, I gave up *coz’ on the previous day I’ve walked quite a lot already ;p*, so some of us went up by bus instead.

Then we took a path downhill to see the earth pyramids, and it started raining, exactly according to the weather forecast. But we kept on going, rain can’t stop us! ^^

Here you go, the earth pyramids. How could it happen? The secret is relied on the stones on top of them. Well, most of the stones are already disappear, but some of them are still there. As we know, natural processes such as erosion can happen to the soil. The stones prevent the soil below them to be removed by erosion, then voila! Of course it happened (maybe) hundreds years ago, and took a long time to become like that.

*******

Yap, that’s all.. for now :) . Maybe there will be more coming. Sometimes it’s important to go out (or up ;p) to exercise and move the muscles, since I spend most of the time in front of the laptop. It’s fun! really ^^ But of course, usually I have to ‘pay the price’ XD, at least one day of rest, doing nothing but lie down on the bed.

Failure Song

Click here to view the embedded video.

Sting – Saint Agnes and The Burning Train

Bagi pengikut setia salah satu variety show pasti sudah tak asing lagi dengan petikan gitar yang satu ini. Karena di setiap episode pasti lagu ini mengalun paling sedikit satu kali, jadi penasaran deh. Ternyata lagunya Sting toh ;p.

Cocok banget jadi theme song saat ini ^^. Posisi: nangis jongkok sambil ngurek-ngurek tanah.

Ditengah Prahara

20120430-123251.jpg


Entrepreneurship Melalui Startup? Mengapa Tidak!

Tulisan ini saya buat untuk mengisi artikel di dalam website www.informatika.org – portal keluarga besar teknik informatika ITB.

Beberapa tahun terakhir, semangat entrepreneurship sudah sangat menggema di kampus-kampus ternama di Indonesia termasuk ITB. Saya ingat ketika saya masih duduk di tingkat 3 perkuliahan S1 (sekitar tahun 2006), beberapa senior IF angkatan 2003 mendirikan Sangkuriang Studio, startup yang kemudian bergerak di bidang GameMultimedia ApplicationsBusiness Support SystemRich Internet Applications. Ketika itu saya berpikir, berani sekali para senior ini langsung memulai usaha, sesuatu yang hanya akan saya jajali apabila memiliki pengalaman karir dan modal yang cukup.

Kantor Suitmedia

Yang ada di dalam rencana hidup jangka menengah saya saat itu yaitu setelah lulus S1, bekerja di perusahaan top untuk menggali pengalaman sebanyak-banyaknya, dan berbekal itu saya ingin melanjutkan kuliah S2 dan kemungkinan juga S3 di universitas top dunia, dan dengan itu saya dapat menduduki jajaran eksekutif di perusahaan besar, barulah saya memiliki modal (pengalaman maupun dana) yang cukup untuk memulai suatu usaha. Sebuah rencana yang saya pikir cukup banyak dilakukan dan dijalankan oleh para alumni.

Akhirnya, tidak lama setelah lulus dari ITB, saya bekerja di Boston Consulting Group (BCG), salah satu perusahaan konsultan bisnis kelas dunia, yang tahun ini dinobatkan oleh Fortune sebagai tempat kerja terbaik di dunia di bawah Google (lihat di http://money.cnn.com/magazines/fortune/best-companies/2012/full_list/). Sampai disini, saya masih mengikuti rencana hidup saya tersebut, hingga saya mendengar pernyataan dari rekan yang bekerja di perusahaan sejenis sebagai berikut:

I joined world class consultant in order to enter MBA in world top university. I thought it was a good decision, yet apparently questionable. I faced quite difficult experience in applying since there are hundreds of consultants just like me, not mentioning those from competitors within the same and across industries; hence I am less special at all compared to them. I was then thinking that the story maybe different if I chose to start my own startup, engage in a unique business model, and cooperate within my team to bring added value to our employees, partners, and furthermore communities we are collaborating with. I think that would be unique and able to provide high advantage when applying for MBA.

Kru Suitmedia

Untuk saya sendiri, akhirnya setelah satu setengah tahun berkarir di BCG, saya akhirnya menjadi partner penuh rekan saya Achmad Zaky dalam mengembangkan Suitmedia, startup yang bergerak di dalam Website DevelopmentMobile Application (Android, Blackberry, dan iOS) Development, and Social Media Network, dan Bukalapak, startup yang bergerak di bidang eCommerce.

Disini saya melihat bahwa menjadi entrepreneur, khususnya mengembangkan startup, ternyata merupakan pilihan yang memiliki nilai lebih meskipun kita memiliki rencana-rencana lain untuk hidup kita ke depannya. Saya sampaikan tiga contoh disini:

  1. Untuk keperluan studi lebih lanjut
    Hal ini sudah terlihat dari penjelasan diatas, yaitu bahwa terlibat di dalam startup yang memiliki model bisnis yang unik dan memberikan manfaat bagi komunitas/masyarakat ternyata menjadikan profil diri kita unik dibandingkan dengan pelamar yang lain. Keunikan inilah yang dicari oleh para penyeleksi aplikan yang melamar ke universitas karena mereka tidak ingin memiliki profil mahasiswa yang seragam. Dengan demikian, peluang kita untuk lolos akan lebih besar.
  2. Untuk bergabung di korporasi / perusahaan besar
    Terlibat di dalam startup memungkinkan kita untuk terlatih berpikir kreatif dan out-of-the-box karena iklim dunia startup yang bersifat all or nothing (kalau startup kita tidak memiliki nilai lebih dibanding yang lain, kita akan tertinggal). Korporasi biasanya memandang lebih karyawan yang memiliki pola pikir ini. Besar kemungkinan, karyawan tersebut akan lebih mudah naik tingkat karena semakin ke atas, akan semakin banyak problem perusahaan yang tidak bersifat tekstual sehingga memerlukan pendekatan kreatif. Sebagai contoh lagi, banyak rekan saya di BCG yang pernah terlibat di startup sebelum mereka bergabung (bahkan beberapa diantaranya masih menjalankannya).
  3. Untuk menjadi pengajar
    Rasanya poin terakhir ini cukup jelas, yaitu bahwa pengalaman yang riil dalam mengembangkan startup akan memudahkan pengajar dalam memberikan materi kepada mahasiswa dibandingkan mengandalkan teori atau text book saja, terutama untuk mata kuliah terkait (seperti Software Project Management atau IT Business/Management).

Dengan demikian, mengembangkan startup dapat menjadi pilihan karir yang baik, entah itu bagi rekan-rekan yang memang ingin berwirausaha, maupun bagi rekan-rekan yang ingin merencanakan hal-hal diatas.

Terakhir, saya ingin menanyakan, khususnya bagi rekan-rekan yang sudah mengembangkan startup, yaitu mengapa rekan-rekan memilih untuk menjadi entrepreneur? Beberapa orang melakukannya karena waktu kerja yang fleksibel, budaya kerja yang fleksibel (tidak harus pakai kemeja ke kantor, dsb), kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, kesempatan untuk menjadi atasan, atau bahkan alasan gengsi (“saya punya perusahaan!”). Menurut saya sendiri, orang yang memilih untuk menjadi entrepreneur hendaknya melakukannya karena itu adalah salah satu cara terbaik dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pihak lain, entah itu karyawan, klien, vendor, ataupun pihak lain yang terlibat di dalam usaha kita. Apakah rekan-rekan sepakat? Atau ada alasan lain?


Contemplating

Fantasia_painting

I see skies of blue, clouds of white..
Bright blessed days, dark sacred nights..
And I think to myself, what a wonderfull world..
(Louis Armstrong)

Sent from my Windows Phone


Drives Me Crazy

Have you ever felt like that? Like you want to pull your hair out, or banging you head on the wall. Or.. felt like laughing and crying at the same time. Happened to me just now, and that was the worst feeling ever. I bet that’s what you call being crazy. And it gives me chills since I was this close to become insane ^^;

Because it was already past eleven at night, which means we’re not allowed to make any kind of noisy noises, I prefer to cry -silently- to my heart’s content instead of laughing. It’s kinda hard to LMFAO while suppressing the sound, isn’t it?

Anyway, after that ‘storm’ passes, surprisingly I felt… at peace. And peace really helps me thinking clearly. Though the problem is not solved yet, I managed to collect my thought, compose an email message, and send it to my supervisor.

This is really my first experience of feeling this way. I’ve found problems more challenging than this one during my previous job as software debugger, and even during my preparation for the exam of one course last semester, but never I felt did I feel as desperate as today. Maybe because the pressure is building up, and I find no joy in doing this.

Wait, no joy? At all? Maybe I should consider changing the topic. Or.. I should try harder to find something, something that I missed, that perhaps can help me enjoy the ride. Let’s wait for what my supervisor has to say then.

Nope, I’m not exaggerating, and this is definitely not my hormone talking. Because of the weather? Maybe. It keeps raining almost everyday here. April has never been my favorite month of the year. There’re even times when I avoid meeting people because I’m sure their first question will be…

“So, how’s your thesis going?”

Cazzo.